Senin, 17 Agustus 2015

Kisah Pengalaman Pendakian Gunung Pertama Saya

MakinMales - Kisah Pengalaman Pendakian Gunung Pertama Saya. Pernahkah kalian berfikir untuk mendaki sebuah gunung? Atau kalian sudah pernah? Atau malah sama sekali merasa pendakian hanyalah kegiatan yang sia-sia dan membosankan? Ya namanya juga manusia tentu tidak akan sama dan mempunyai alasan yang berbeda-beda.

Sejak kecil saya senang sekali melakukan petualangan di alam liar, ya meskipun hanya sekedar menjelajah hutan, menelusuri aliran sungai dan mendaki bebatuan yang mungkin di anggap sebagian orang berbahaya. Ya tapi itulah aku, senang dengan kegiatan yang berbau dengan alam. Masa kecil saya yang hidup di desa yang masih lebat akan tumbuh-tumbuhan hijau dan dikelilingi hutan yang masri asri. Bukan hanya menjelajah hutan tapi memancing ikan adalah juga kegiatan favorit saya waktu itu. Hidup di desa memang mendidik kita untuk selalu mengagumi dan menjaga alam yang tuhan titipkan ini.
Pendakian Pertama Di Gunung Merbabu Via Wekas
Gunung Merbabu - 1 November 2014
Waktu beranjak begitu cepat seakan enggan menungguku untuk bermain lebih lama lagi. Sekarang ini saya sudah menginjak semester 5 di salah satu perguruan tinggi swasta di jogja, kota dengan serinbu keindahan alam dan budayanya. Dan mulailah dari sini saya mulai mencintai pendakian. Saat itu tanggal 1 November 2014, itulah pertama kali saya melakukan pendakian. Saat itu saya dan juga teman-teman saya mendaki Gunung Merbabu. Gunung yang sedang tertidur lelap dan bisa bangun kapan saja.

Sebelum melakukan pendakian saya mengalami beberapa hal yang sulit, salah satunya adalah izin dari keluarga. Saat itu ayah mengizinkan aku tetapi tidak dengan ibu dan nenek aku, mereka sangat enggan memberiku izin untuk melakukan pendakian di Gunung. Tetapi saya mencoba meyakinkan kepada mereka dan memberikan penjelasan hingga akhirnya hati mereka luluh dan mengizinkan saya untuk ikut dengan teman-teman saya dalam melakukan pendakian di Gunung Merbabu. Hati saya pun sangat bahagia karena keluarga sudah memberikan izin, ingat tanpa izin orang tua semua yang kita lakukan tidak akan berkah dan akan mengalami kesulitan yang luar biasa. Jadi pesan saya kepada temen-temen semua, segala kegiatan yang akan kita lakukann usahakan minta izin kepada keluarga khususnya ibu. Jika ibu tetap kekeh tidak memberikan izin kepada kita coba berikan penjelasan yang membuat beliau memberikan kepercayaannya kepada kita, tetapi jika beliau tetap tidak mengizinkan maka jangan sekali-kali melawan.

Disaat berada di basecamp saya berfikir bahwa mendaki gunung itu adalah hal yang mudah dan tidak berat. Tetapi setelah menginjakan kaki beberapa meter saja, rasa lelah dan letih sudah mulai merasuki badan saya. Disaat itulah saya mulai berfikir bahwa mendaki gunung itu tidak mudah dan membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang cukup. Saat itu saya dan teman-teman saya melakukan pendakian melalui jalur wekas. Sedikit informasi bagi temen-temen semua bahwa jalur wekas ini terbilang jalur yang paling cepat untuk mencapai puncak dari Gunung Merbabu tetapi medannya cukup berat yang hanya berupa tanjakan dan tanjakan.

Di dalam setiap langkah yang saya tapakan saya selalu menghayati dan memahami apa sebenarnya yang ingin Merbabu ajarkan kepadaku. Dan disanalah saya mulai berfikir bahwa guru terbaik yang mengajarkan perjuangan adalah Gunung. Salah satu ciptaan tuhan yang maha indah yang menyajikan beribu-ribu misteri yang sulit dipecahkan. Gunung mengajari saya arti pentingnya bersabar, mengontrol pikiran, hingga mengajari saya arti pentingnya sebuah persahabatan.

Di saat mendaki gunung kita tidak boleh egois, meskipun kita masih kuat tetapi teman-teman kita sudah lelah kita harus mengalah dan jangan menuruti ego diri. Kebersamaan adalah hal utama dan yang paling penting saat melakukan pendakian maupun di dunia kita sehari-hari.

Berjuang hingga akhir, jika kita punya mimpi maka kita harus memperjuangkannya. Ya kita harus tetap berjalan meski kaki ini sering lelah, kita harus tetap berjalan menggapai mimpi kita. Ketika lelah ingatlah bahwa temanmu ada disampingmu untuk menggandeng tanganmu untuk kembnali berjalan bersama. Jika kita terjatuh ingatlah ada temanmu yang ada disampingmu yang akan selalu mengulurkan tangannya dan menuntun kita pada jalan perjuangan kembali.

Melawan diri sendiri, hal itulah sebenarnya yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia ini. Dan gunung mengajarkan hal itu, Di gunung bukan kita yang melawan gunung tetapi diri kita sendirilah yang kita lawan. Kita harus mampu mengontrol bahkan menjadi tuan bagi diri kita senndiri. Jangan sampai pikiran negatif menguasai diri kita. Jangan sampai rasa malas merasuki diri kita, karena tiada perjuangan yang akan berhasil jika kita terus menyandarkan tubuh kita pada kenikmatan rasa malas yang berkepanjangan.

Perjuangan membutuhkan langkah dan langkah bisa kita mulai dari satu langkah kecil. Jangan berfokus pada impian tetapi fokuslah kepada apa yang sedang kamu hadapi didepan kamu saat ini. Singsingkan baju dan angkat topimu kawan, mari kita berjuang melawan diri kita sendiri dan mari kita nikmati indahnya dunia yang tuhan titipkan ini. Hidup hanya sekali jangan sampai kalian hanya berdiam diri di kamar saja, larilah keluar dan lihatnlah dunia ini lebih jauh lagi. Berjalanlah sampai kita kembali di kenyataan yang takkan pernah berakhir yaitu akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar